Kamis, 25 Februari 2016

ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOR (OCB) DALAM PERSPEKTIF ISLAM (DHARA NATASYA RAKHMAT)

ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOR (OCB) DALAM PERSPEKTIF ISLAM
Oleh :
DHARA NATASYA RAKHMAT
 21150700000023


BAB I
1.1.  Pendahuluan
Secara bahasa Hablumminallah itu adalah hubungan dengan Allah, dan Hablumminannas adalah hubungan dengan manusia. Hubungan vertikal manusia dengan Allah S.W.T (Hablumminallah) dan hubungan horizontal antar manusia (Hablumminannas) diharapkan dapat berjalan secara seimbang dan berkesinambungan.
Karyawan yang menjaga hubungan antar manusianya dengan baik, cenderung memiliki Organizational Citizenship Behavior (OCB) yang baik pula. OCB adalah perilaku positif dalam dunia kerja yang membuat seseorang sanggup melakukan pekerjaan di luar pekerjaan formalnya tanpa mengharapkan reward dari organisasi. Hal ini diwujudkan melalui semangat untuk membantu rekan kerja dan mengusahakan pencapaian organisasi dengan bekerja sama mewujudkan tujuan kelompoknya, dan sangat relevan dengan perilaku ikhlas Lillahi Ta’ala dalam bekerja tanpa mengharapkan reward dari organisasi. Dalam sebuah hadist yang disampaikan oleh sahabat Umar bin Khatab radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahua’laihi wasallam bersabda:
إنما الأ عمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى
“Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya dan seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan” (HR Bukhari & Muslim)
Mujib (2012) menyatakan bahwa Islam tidak menghendaki keterpisahan antara ilmu dan sistem nilai seperti yang terjadi di Barat. Membumikan karakter Islam akan memberi implikasi positif bagi kehidupan manusia, karena sifatnya jalb al-mashalih (menarik yang baik) dan dar’u al-mafasid (menolak yang merusak). Hal ini didukung oleh Huda (2011) bahwa ilmu adalah fungsionalisasi ajaran wahyu, yang merupakan hasil dialog antara ilmuwan dengan realitas yang diarahkan perkembangannya oleh wahyu al-Qur’an. Oleh karena itu, seorang individu muslim, dalam menjalankan interaksi dengan sesama di dunia kerja, diharapkan dapat menerapkan nilai filosofis digali dari sumber Islam itu sendiri, dengan teknik-operasional yang merujuk langsung dari teori-teori psikologi yang sudah ada.
Sesuai penjelasan di atas, maka dapat kita lihat bagaimana implementasi nilai-nilai keislaman dapat diterapkan pada hubungan antar manusia dalam konteks Organizational Citizenship Behavior (OCB) yang perlu dibudayakan dalam organisasi.
1.2.  Tujuan
Sesuai penjelasan di atas, maka makalah ini disusun untuk melihat bagaimana implementasi nilai-nilai keislaman dapat diterapkan pada hubungan antar manusia dalam konteks Organizational Citizenship Behavior (OCB).
1.3.  Rumusan Masalah
Bagaimana pengaruh Hablumminannas yang dapat diterapkan karyawan, khususnya seorang muslim/muslimah pada konsep Organizational Citizenship Behavior (OCB).
1.4.  Definisi Operasional
Hubungan dengan sesama manusia (Hablumminannas) berkaitan langsung dengan akhlak manusia. Betapa pentingnya permasalahan akhlak ini hingga Allah S.W.T mengutus seorang Rasul untuk menyempurnakan akhlak manusia serta menjadi memberi contoh langsung dan nyata kepada para pengikutnya mengenai panutan akhlak mulia:
كان احسن الناس خلقا
“Nabi S.A.W. adalah manusia dengan akhlak yang terbaik”. (HR: Muslim dan Abu Dawud).
OCB juga merupakan perilaku dan sikap yang menguntungkan organisasi yang tidak dapat tumbuh melalui tugas formal maupun kompensasi (Organ, 1988).
1.5.  Tujuan Penulisan
1.5.1. Tujuan umum
   Untuk memberikan gambaran dan pemahaman yang jelas mengenai Hablumminannas diterapkan pada konsep Organizational Citizenship Behavior (OCB)
i.                   Tujuan Khusus
a.                             Pengertian Hablumminannas.
b.      Pengertian Organizational Citizenship Behavior (OCB).
c.       Organizational Citizenship Behavior (OCB) dalam perspektif Islam.
d.      Dimensi Organizational Citizenship Behavior (OCB) dalam perspektif Islam.
1.6.  Manfaat Penulisan
Makalah ini diharapkan dapat memberi kontribusi dalam menambah wawasan serta sebagai salah satu rujukan untuk memahami lebih lanjut sisi tema yang sama dalam konteks Hablumminannas diterapkan pada konsep Organizational Citizenship Behavior (OCB).
  

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1.       HABLUMMINALLAH dan HABLUMMINANNAS
2.1.1. Pengertian Hablumminallah dan Hablumminannas
Menurut Prof. Dr. Hamka, urusan pergaulan atau hubungan dapat dibagi menjadi dua, yaitu Hablumminallah (hubungan dengan Allah), dan Hablumminannas (hubungan dengan manusia). Kedua hal ini harus berjalan beriringan, dan diperhatikan secara seimbang jika ingin baik hidupnya.
Hablumminallah menyinggung mengenai permasalahan tauhid (mengesakan Tuhan), artinya hanya Allah saja yang Maha Kuasa atas segala hal. Hubungan ini memberikan pemahaman dan keyakinan bahwa semua yang terjadi adalah atas ijin Allah, dan segala amal ibadah yang dilakukan karena ikhlas mengharap ridho-Nya. Sementara itu, Hablumminannas memberikan pemahaman bahwa dalam hubungan dengan sesama manusia harus menjunjung tinggi keadilan. Setiap orang harus mematuhi hak dan kewajiban terhadap sesamanya, sehingga akan tercapai pergaulan yang sempurna di dalam bermasyarakat dan berbangsa.
2.1.2. Dalil-dalil Hablumminallah dan Hablumminannas
Manusia adalah makhluk sosial yang tidak mampu untuk hidup sendiri. Pada praktiknya, kehidupan manusia tidak hanya bergantung pada masalah urusan sosialnya saja. Akan tetapi, ada sebuah kebutuhan dasar yang dirasakan dalam hidupnya, yaitu interaksinya dengan tuhannya (Hablumminallah). Hubungan vertikal manusia dengan Allah S.W.T (Hablumminallah) dan hubungan horizontal antar manusia (Hablumminannas) diharapkan dapat berjalan secara seimbang dan berkesinambungan.
Ketergantungan manusia pada Allah S.W.T, secara sadar melahirkan kepatuhan dan rasa tanggung jawab untuk mengabdi dan beribadah pada Allah S.W.T, sebagaimana tercantum pada ayat berikut ini:
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
(Q.S.Az-Zariyat, 51: 56)
Ayat mengenai Hablumminannas banyak disebutkan di dalam Al-Quran. Hal ini menyiratkan betapa pentingnya menjaga hubungan yang baik diantara sesama manusia. Pada awalnya, manusia diciptakan secara berpasangan, bahkan dalam sejarah tercatat bahwa adam diturunkan ke bumi pun bersama hawa. Dengan perkembangan zaman, manusia kemudian berinteraksi dan membentuk kelompoknya sendiri. Allah S.W.T dengan tegas menyatakan bahwa:
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S. Al-Hujurat, 49 : 13)

 (Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat. (Q.S. Asy-Syura, 42: 11)

Ayat di atas ditafsirkan sebagai pijakan pendapat bahwa sejak awal penciptaan manusia tidak dapat hidup sendiri, dan secara naluriah hidup secara berkelompok dengan tujuan dan kepentingan tertentu. Lebih jauh lagi, keberadaan manusia dianggap sebagai pengganti kaum yang telah musnah yang pada sebagiannya diberi kemampuan untuk memimpin manusia yang lainnya (khalifah).
Hubungan dengan sesama manusia (Hablumminannas) berkaitan langsung dengan akhlak manusia. Betapa pentingnya permasalahan akhlak ini hingga Allah S.W.T mengutus seorang Rasul untuk menyempurnakan akhlak manusia serta menjadi memberi contoh langsung dan nyata kepada para pengikutnya mengenai panutan akhlak mulia:
 “Nabi S.A.W. adalah manusia dengan akhlak yang terbaik”. (HR: Muslim dan Abu Dawud).

”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang sholeh”.
(HR: Bukhari dalam shahih Bukhari kitab adab, Baihaqi dalam kitab syu’bil Iman dan Hakim).

Rasulullah S.A.W juga bersabda: “Bukanlah termasuk golongan kami siapa saja yang tidak menghormati orang yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda dan mengenal hak orang ‘alim kita.” (HR Ahmad dan Hakim, dihasankan oleh Al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no. 4319)
2.2.       ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOR (OCB)
2.2.1. Pengertian Organizational Citizenship Behavior (OCB)
Dalam dunia kerja, seringkali individu dihadapkan pada realita bahwa ia harus bekerja di luar tugas utamanya. Tempat kerja yang merupakan wadah bagi kesatuan kelompok kecil dari masyarakat menuntut anggotanya untuk saling berkomunikasi agar memperoleh hubungan yang baik. Menurut Hofstede (1991), Indonesia adalah salah satu negara yang mempunyai nilai kolektivistik tinggi dimana kepentingan kelompok berada di atas kepentingan individu, sehingga dapat dikatakan sistem tim kerja berkembang dengan baik di Indonesia.
Kemampuan interpersonal seperti di atas sangat diperlukan agar seseorang dapat diterima di lingkungannya untuk saling memberikan timbal balik yang positif di antara individu, baik itu yang berhubungan langsung dengan pekerjaan, ataupun seputar kehidupan sosial secara personal atau yang disebut sebagai perilaku extra role. Perilaku extra-role adalah perilaku dalam bekerja yang tidak tercantum dalam deskripsi kerja formal namun sangat dihargai jika ditampilkan karena akan meningkatkan efektivitas dan kelangsungan hidup organisasi (Katz, 1964). Perilaku ini juga dikenal dengan istilah Organizational Citizenship Behavior (OCB), dan orang yang menampilkan perilaku OCB disebut sebagai karyawan yang baik (good citizen).
OCB adalah perilaku positif tanpa syarat yang ditunjukan oleh individu diluar tanggung jawab pekerjaannya dengan membantu orang lain untuk bersama mencapai tujuan organisasi (Bateman & Organ, 1983). Misalnya membantu rekan kerja meringankan beban kerja mereka, atau membantu menyelesaikan permasalahan ketika ia tidak masuk kerja tanpa mengharap imbalan apapun. OCB juga merupakan perilaku dan sikap yang menguntungkan organisasi yang tidak dapat tumbuh melalui tugas formal maupun kompensasi Organ (1988).
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan Organizational Citizenship Behavior (OCB) merupakan :
1.      Perilaku yang bersifat sukarela, dan tidak ada paksaan dalam mengedepankan kepentingan organisasi.
2.      Perilaku individu yang tidak saja berkaitan dengan tugas formal tetapi juga di luar tugas formal.
3.      Tidak berkaitan secara langsung dan terang-terangan dengan sistem reward yang formal.
2.2.2. Dimensi Organizational Citizenship Behavior (OCB)
Dimensi pada OCB berdasarkan Organ, Podsakoff, dan Mackenzie (2006) adalah:
1.        Altruism
Altruism adalah perilaku karyawan untuk membantu ataupun menolong rekan kerjanya yang mengalami kesulitan dalam situasi yang sedang dihadapi tanpa memikirkan keuntungan pribadi.
2.      Courtesy
Memperhatikan dan menghormati orang lain, juga sifat menjaga hubungan baik dengan rekan kerja agar terhindar dari masalah interpersonal, atau membuat langkah-langkah untuk meredakan atau mengurangi suatu masalah.
3.        Conscientiousness
Perilaku yang menunjukkan sebuah usaha agar melebihi harapan dari organisasi. Perilaku sukarela atau yang bukan merupakan kewajiban dari seorang karyawan.
4.        Sportsmanship
Menekankan pada aspek-aspek perilaku positif terhadap keadaan yang kurang ideal dalam organisasi tanpa menyampaikan keberatan, seperti tidak suka protes, tidak suka mengeluh walaupun berada dalam situasi yang kurang nyaman, dan tidak membesar-besarkan masalah yang kecil.
5.      Civic Virtue
Karyawan berpartisipasi aktif dalam memikirkan kehidupan organisasi atau perilaku yang menunjukkan tanggung jawab pada kehidupan organisasi untuk meningkatkan kualitas pekerjaaan yang ditekuni. Contoh perilakunya adalah ketika karyawan mau terlibat dalam permasalahan yang ada di organisasi dan tetap up to date dalam perkembangan organisasi. Karyawan yang bertindak secara proaktif untuk mencegah situasi negatif yang dapat mempengaruhi organisasi maka dapat dikatakan menampilkan civic virtue.
6.        Cheerleading
Karyawan terlibat atau mengikuti perayaan prestasi dari rekan kerjanya (rendah hati). Dampaknya yaitu untuk memberikan penguatan positif bagi kontribusi positif, yang pada gilirannya akan membuat kontribusi tersebut lebih mungkin terjadi di masa depan.
7.        Peacemaking
Karyawan menyadari adanya masalah atau konflik yang akan memunculkan perselisihan antara dua atau lebih partisipan. Seorang peacemaker akan masuk kedalam permasalahan, memberikan kesempatan pada orang yang sedang memiliki masalah untuk berpikir jernih, dan membantu mencari solusi dari permasalahan.
Organ; Podsakoff; dan Mackenzie (2006), berpendapat bahwa dimensi altruism, courtesy, cheerleading, dan peacemaking dapat digabung menjadi satu dimensi yaitu dimensi helping behavior karena berkaitan dengan perilaku menolong orang lain dalam mengatasi permasalahan-permasalahan yang ada serta menyangkut pekerjaan di organisasi. Oleh karena itu maka pengukuran OCB dapat dilakukan dengan menggunakan empat dimensi saja yaitu helping behavior, conscientiousness, sportsmanship, dan civic virtue.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Organizational Citizenship Behavior (OCB) diantaranya:
1.        Kepuasan Kerja
Seorang karyawan yang merasa puas terhadap pekerjaan serta komitmennya kepada organisasi tempatnya bekerja akan cenderung menunjukkan performa kerja yang lebih baik dibandingkan karyawan yang merasa tidak puas terhadap pekerjaan dan organisasinya. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa ada korelasi yang negatif antara OCB dengan perilaku counter productive karyawan (Robbins & Judge, 2007). OCB hanya dapat dicapai jika didukung oleh kepuasan kerja yang dirasakan oleh karyawan selama bekerja dalam organisasi. Dennis Organ sebagai tokoh penting yang mengemukakan OCB, menyatakan bahwa karyawan yang merasa puas akan membalas kenyamanan bekerja yang dirasakannya kepada organisasi yang telah memperlakukan dirinya dengan baik dan memenuhi kebutuhannya selama ini dengan cara melaksanakan tugasnya secara ekstra melebihi standar yang ada. Hal ini ditunjukkan dengan kesediaan karyawan dalam berbagai bentuk perilaku OCB secara sukarela demi kemajuan perusahaannya (George & Jones, 2002).
Melalui sejumlah riset, OCB diyakini dan terbukti dapat memberikan manfaat yang besar terhadap organisasi, diantaranya adalah berikut ini, yaitu (Organ ,dkk, 2006):
2.        OCB juga mampu meningkatkan produktivitas manajer
3.        OCB dapat menghemat sumber daya yang dimiliki manajemen dan organisasi secara keseluruhan
4.        OCB menjadi sarana yang efektif untuk mengkordinasi kegiatan tim kerja secara efektif
5.        OCB meningkatkan kemampuan organisasi untuk merekrut dan mempertahankan karyawan dengan kualitas performa yang baik
6.        OCB dapat mempertahankan stabilitas kinerja organisasi
7.        OCB membantu kemampuan organisasi untuk bertahan dan beradaptasi dengan perubahan lingkungan.
2.3.  ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOR (OCB) dalam Perspektif ISLAM
Dalam pendidikan Islam, seluruh sendi kehidupan seorang muslim akan bernilai ibadah jika diniatkan demikian. Mulai dari permasalahan ritual ibadah secara personal, hingga pendidikan dan politik sudah diberikan tuntunannya. Termasuk juga mengenai hubungan dengan sesama manusia (Hablumminannas). Rasulullah S.A.W merupakan teladan yang diutus Allah S.W.T untuk menyempurnakan akhlak manusia, sehingga terbentuk manusia-manusia unggulan yang siap untuk mewujudkan Islam menjadi sebuah agama yang Rahmatan lil Aalamin. Manusia yang telah mengikrarkan dirinya menjadi seorang muslim dengan bersyahadat, dituntut untuk mengamalkan apa yang Beliau lakukan dan wajibkan. Hal tersebut melingkupi dunia profesional. Rasulullah S.A.W mengajarkan bagaimana menjalankan perannya dalam dunia politik, memimpin orang lain, bahkan hubungan antar sesama manusia. Dalam dunia kerja, hubungan antar sesama manusia merupakan satu hal utama yang mendukung efektivitas pencapaian tujuan organisasi, terutama dalam perspektif Organizational Citizenship Behavior (OCB) dalam teori modern ini sesuai dengan nilai diajarkan dalam Islam yaitu Hablumminallah dan Hablumminannas yang didalamnya terdapat nilai keikhlasan. yang diajarkan ini sesuai dari teori perilaku citizenship (OCB). Organisasi yang memiliki karyawan dengan OCB yang baik akan mendapatkan karyawan dapat diandalkan baik itu dalam profesionalisme kerja ataupun sebagai individu. Mereka tidak hanya mampu bekerja ekstra tanpa pamrih, namun juga mampu menjaga interaksi dan kerja sama tim dengan rekan kerjanya.
Menurut Syeh Ruwaim Ikhlas adalah mengerjakan suatu perkara tanpa mengharapkan imbalan apapun baik didunia maupun akhirat (al-Ghazali, dalam Diana 2012). Al-Sadid juga (dalam Diana 2012) menjelaskan bahwa seorang yang beramal murni atas keikhlasan yang sempurna karena Allah SWT, jika dia mengambil imbalan yang dianggap muqobalah atau Ju’lu (Imbalan) sebagai sarana dalam pekerjaan dan agamanya, atau mendapatkan bagian dari harta rampasan (Ghonimah) bagi para prajurit muslim yang berperang atau dari imbalan merawat dan menjaga harta yang diwakafkan untuk masjid, madrasah dan Instansi-instansi Islam lainnya, maka hal ini diperbolehkan tanpa mengurangi keihlasan, iman dan tauhid orang-orang tersebut (Soleh bin Aziz, 2003 dalam Diana 2012).
Seseorang berperilaku OCB semata-mata ingin mendapatkan ridha Allah. Perilaku saling menolong, berkomunikasi dengan baik, bekerjasama dan berpartisipasi muncul atas kesadaran berlomba-lomba dalam kebaikan dan balasan yang besar dari Allah SWT. Bahkan Nabi pernah menyatakan perbuatan yang lebih mulia dari jihad:
Nabi bersabda : Amal apakah di hari ini yang paling mulia? Mereka menjawab “jihad”, Nabi bersabda, “bukan jihad” tetapi seseorang yang keluar dengan mengorbankan diri dan hartanya dengan tanpa mengharapkan imbalan apapun.
Dari hadits tersebut dapat dipahami bahwa pengorbanan jiwa, atau harta demi tanpa mengharapkan imbalan atau reward apapun, nilainya lebih mulia dari berjihad atau perang di jalan Allah. Padahal jihad merupakan perbuatan yang paling mulia yang setara dengan keimanan itu sendiri, dan haji yang mabrur (H.R. Bukhari: 25). Hadits tersebut di atas dapat dijadikan landasan bagi seorang muslim/muslimah dalam mengamalkan perilaku citizenship. Dengan demikian motif seorang muslim melakukan OCB adalah karena niat ikhlas mencari Ridha Allah SWT semata. Demikian pula di dalam organisasi, seseorang melakukan OCB bukan hanya karena menginginkan reward saja, tetapi dengan tujuan mendapat keuntungan di akhirat atau balasan dari Allah SWT. Karena, jika hanya menginginkan keuntungan dunia saja, maka Allah SWT hanya akan memberinya sebagian keuntungan dunia, sedangkan jika mengharapkan keuntungan akhirat maka Allah SWT menjanjikan kebaikan yang berlipat ganda. Ini tercantum dalam al-Quran:

Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.(QS. Al-Syuraa,42:20).

Ayat tersebut di atas menganjurkan agar seorang muslim dalam berbuat kebaikan kepada orang lain hendaknya mengharap imbalan akhirat. Allah SWT akan mencatat setiap perbuatan yang dilakukan hambanya sekecil apapun. Setiap kebaikan akan dibalas dengan kebaikan. Sepanjang ajaran ini diingat oleh setiap muslim, maka seorang muslim/muslimah akan selalu melakukan OCB, karena inti dari OCB adalah kebaikan yang dilakukan menyangkut hubungan dengan sesama yang harus disertai dengan niat ikhlas karena mengejar ridho Allah, dan hal ini sangat selaras dengan ajaran Islam (Diana, 2012).
2.4.       Dimensi-dimensi ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOR (OCB) dalam Perspektif ISLAM
Jika tuntunan mengenai Hablumminallah dan Hablumminannas dihubungkan dengan dimensi yang terdapat pada teori Organizational Citizenship Behavior (OCB), maka perusahaan akan memperoleh manfaat sebagai berikut:
1.        Helping behavior (Taawun)
Di dalam Al-Quran dan Hadits anjuran untuk saling tolong menolong disebutkan beberapa kali. Diantaranya adalah:
Hai orang- orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi`ar- syiar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan- bulan haram, jangan (mengganggu) binatang- binatang had-ya, dan binatang- binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang- orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keridaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali- kali kebencian (mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang- halangi kamu dari Masjidil haram, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong- menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong- menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (Al – Maidah, 5: 2)
Ayat di atas menganjurkan seorang muslim untuk dapat membantu sesamanya. Terutama jika pertolongan itu ditujukan bagi kebaikan. Bahkan Nabi S.A.W bersabda bahwa Allah akan menolong siapa pun yang meringankan beban saudaranya.
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali( agama )Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu ( masa Jahiliah ) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang- orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat- ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (Ali Imran: 103)

“Sesungguhnya Allah akan menolong seorang hamba-Nya selama  hamba itu menolong orang yang lain“.
(Hadits muslim, abu daud dan tirmidzi)

Dalam konteks pekerjaan, setiap individu yang memiliki OCB yang baik akan mengamalkan perilaku seperti yang dianjurkan dalam ayat di atas. Ia melakukannya tanpa mengharapkan penghargaan apapun dari orang yang dibantu ataupun dari organisasi. Karena semua tindakan yang ia lakukan atas dasar niat lillahita’ala.

2.        Conscientiousness (Mujahadah)
Karyawan yang memiliki OCB yang baik bersedia melakukan pekerjaan ekstra diluar tanggung jawabnya. Ia bersedia bekerja lembur demi membantu tercapainya tujuan organisasi. Dalam islam, setiap muslim dituntut untuk mengusahakan yang terbaik.
Rasulullah bersabda: “sesungguhnya setiap perbuatan tergantung pada keteguhan niatnya, barang siapa yang hijrah karena Allah dan Rasulnya maka hijrahnya adalah Allah dan Rasulnya, barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya tergantung pada niatnya”. (HR. Bukhari: 916).
Hadits tersebut menerangkan bahwa dalam melakukan sesuatu harus didasari niat yang teguh dan sungguh-sungguh, meskipun dengan pengorbanan waktu, tenaga dan harta. Karena yang demikian tersebut dipandang sebagai perbuatan yang lebih mulia dari jihad6.
3.        Sportsmanship (Sportif)
Sportif diartikan sebagai kemauan mempertahankan sikap positif ketika sesuatu tidak sesuai, tidak sakit hati ketika orang lain tidak mengikuti sarannya, mau mengorbankan kepentingan pribadi demi organisasi dan tidak menolak ide orang lain. Al-Quran menganjurkan untuk saling menasihati satu sama lain, dan mengingatkan jika terjadi kesalahan atau kealpaan sebagai manusia (Q.S.al-Ashr:13)
Rasulullah bersabda: “aku diutus untuk menegakkan sholat, mengeluarkan zakat dan saling menasihati sesama saudara sesama muslim”. (HR.Bukhari)
Hadits di atas menganjurkan perbuatan saling menasihati dengan perintah solat dan zakat. Begitu pentingnya perilaku ini, sehingga Jarir bin Abdillah mempunyai komitmen besar kepada nabi untuk melaksanakan solat, mengeluarkan zakat dan menasihati kepada setiap muslim. Menasihati dalam hadits tersebut dapat diartikan memberikan masukan demi kebaikan orang lain ataupun organisasi.
Nabi juga menyarankan saling mempermudah, saling memberi masukan, dan tidak marah atau emosi ada sesuatu yang sesuai dengan harapan. Hal ini dapat diartikan bahwa seseorang tidak boleh mengedepankan emosinya dalam bergaul atau berperilaku, tetapi harus positif, saling menghargai dan memberikan jalan buat orang lain. Seperti pada hadist berikut ini:
Nabi bersabda: “ajarkanlah, permudahlah, jangan mempersulit orang lain, ketika salah satu di antara kamu marah, maka kamu diamlah”. (HR.Ahmad)
Perilaku positif lainnya terkait sportsmanship adalah keterbukaan dan kejujuran, yang mana kejujuran merupakan kata kunci kebahagiaan seorang yang abadi, yaitu surga.
Nabi bersabda; “kejujuran mendatangkan kebaikan, kebaikan menunjukkan ke surga, maka hendaknya seseorang berbuat jujur hingga menjadi orang yang jujur. Kebohongan menunjukkan kejelekan, kejelekan menunjukkan ke neraka, orang yang berbohong ditulis oleh Allah sebagai pembohong”. (HR.Bukhori)
4.        Civic virtue
Setiap muslim harus peduli orang lain dan juga mendatangi setiap ada undangan pertemuan ilmiah atau rapat. Ini sebagai bentuk kecintaan terhadap organisasi. Seperti pada hadist di bawah ini:
Nabi memerintahkan 7 hal dan juga melarang 7 hal, yaitu sambang orang sakit, merawat jenazah, mendoakan orang yang bersin, menjawab salam, menolong orang yang teraniaya, memenuhi undangan, menepati janji (HR. Bukhari).
Dari hadits tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa empati atau peduli orang lain merupakan karakter seorang muslim, mulai dari hal terkecil seperti mendoakan orang yang bersin, sampai pada hal besar seperti memenuhi undangan apapun dan oleh siapapun baik mahasiswa, masyarakat khususnya pertemuan-pertemuan penting organisasi, juga seperti menepati janji yang hal ini dapat kita artikan dengan disiplin waktu.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1.       KESIMPULAN
Dari penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai keislaman terkait Hablumminannas yang dicontohkan oleh Rasulullah S.A.W apabila diaplikasikan dalam hubungan sesama manusia pada kehidupan profesional melalui konteks Organizational Citizenship Behavior (OCB) akan mendukung efektivitas pencapaian tujuan organisasi karena karyawan tidak hanya mampu bekerja ekstra tanpa pamrih, namun juga mampu menjaga interaksi dan kerja sama tim dengan rekan kerjanya.
3.2.       SARAN
Setiap manusia sebaiknya berusaha menjaga hubungan baik dengan sesama manusia. Agar menjadi nilai ibadah bagi umat muslim, maka harus diniatkan sebagai ibadah. Sehingga, sekecil apapun hal yang dilakukan memiliki nilai di hadapan Allah S.W.T.



DAFTAR PUSTAKA

Debora., E.P & Ali, N.L.S. Pengaruh Kepribadian dan Komitmen Organisasi Terhadap Organizational Citizenzhip Behavior

Hamka. Lembaga Hidup. Republika. Edisi XII. 2015

Herminingsih Spiritualitas dan Kepuasan Kerja Sebagai Faktor Organizational Citizenship Behavior (OCB)

Ilfi., N.D. Organizational Citizenship Behavior (OCB) Dalam Islam. Jurnal Ilmu Ekonomi dan Sosial, Jilid 1, Nomor 2, November 2012


Huda. M.S MF. Psikologi Alternatif (Islami): Menemukan dan Merumuskan Khazanah Intelektual Islami

Prabowo, Arief Tri. Pengaruh Religiusitas Terhadap Organizational Citizenship Behavior (OCB) Pada Guru Muslim



Tidak ada komentar:

Posting Komentar